Jaminan Allah Ketika Total Bergantung

Jaminan Allah Ketika Total Bergantung

Thursday, July 06, 2017

Akhir-akhir ini, seiring dengan maraknya kampanye anti-riba, demikian pula halnya dengan kampanye asuransi yang hilir mudik menyampaikan argumennya. Entah itu asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, asuransi kepemilikan rumah dan properti, asuransi bisnis, asuransi perjalanan, sampai asuransi umun, kelautan dan kredit. Tapi ketika kita membicarakan buah hati atau anak, pasti kita akan langsung teringat pada asuransi pendidikan.

Ya, tidak bisa dinafikan jika biaya pendidikan saat ini luarbiasa mahal. Jangankan berpikir jenjang perguruan tinggi, bahkan sejak Pendidikan Anak Usia Dini pun, jika ingin menuruti hal keuangan kelas menengah keatas akan didapati instansi pendidikan yang mematok harga diatas akal logika. Jangankan di kota besar, bahkan di pedesaan pun telah menjamur sekolah-sekolah mahal untuk kalangan konglomerat. Biasanya mengedepankan keagamaan dalam kurikulumnya, atau skill tertentu seperti kemandirian dan entrepreneurship. Saat ini, sekolah adalah hal prestise yang bisa menjadi tolak ukur kemampuan orangtua dalam menyekolahkan anaknya. Bisa dibilang gengsi jika menyekolahkan anak di sekolah negeri biasa dibanding swasta, meski harus merencanakan keuangannya jauh-jauh hari sejak anak dilahirkan. Salah satunya dengan mengikuti asuransi pendidikan.

Disini, saya tidak ingin menyampaikan dalil-dalil anti-asuransi. Pun, bukan bertindak sebagai orang bodoh yang bertawakkal demikian saja tanpa berbuat apa-apa demi garansi pendidikan anak-anak kelak. Mungkin bisa dibilang, tulisan saya akan merangkum “pemikiran tengah” diantara pro-kontra akan dua pendapat diatas. Meskipun harus saya sampaikan diawal, bahwa mungkin akan terkesan tidak logis, mistis, dan semacamnya, tapi, memang demikian adanya.

Dulu, ibu mertua saya ikut asuransi pendidikan karena suami beliau adalah seorang TNI. Biasanya, hal demikian hukumnya wajib dengan dipotong langsung dari gaji yang diterima per bulan. Karena seringnya pindah tugas dari satu daerah ke daerah yang lain, -saya kurang ingat apakah benar karena sistem pembayaran yang berubah harus langsung disetorkan- membuat ibu mertua tidak lagi membayarkan premi asuransi meski sudah bertahun-tahun lamanya “menabung” di agen asuransi BUMN itu. Suatu saat ketika beliau butuh biaya pendidikan untuk anaknya, ternyata uang “tabungan” bertahun-tahun tersebut telah hangus karena berhenti membayar premi asuransi. Diusahakan bagaimanapun, jalan terakhir adalah mengikhlaskannya dengan berat hati.

Dan sampai sekarangpun, uang itu tidak pernah kembali. Tapi saya kemudian berpikir ulang, benarkah uang itu benar-benar tidak pernah kembali kepada anak-anak ibu mertua saya (suami saya dan adiknya)? Diakhir tulisan saya akan menjawabnya.

Dalam buku Garansi Langit karya Ustad Sonny Abi Kim, beliau menuliskan bahwa “ini bukan perkara ikut asuransi atau tidak, bukan soal menabung atau tidak, bukan masalah investasi atau tidak, namun ini adalah tentang kehilangan Allah atau tidak. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan, bergesernya gantungan, berpindahnya sandaran. Ketika Allah sudah hilang, maka efeknya adalah hilangnya keberkahan, jika keberkahan sirna maka harta sebanyak apapun tak akan memberi manfaat dan kebaikan untuk anak-anak kita s-e-d-i-k-i-t-p-u-n.”

Beliau juga memberikah sebuah kisah perbandingan dua khalifah di zaman Dinasti Bani Umayyah, yakni Hisyan bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz, yang sama-sama meninggalkan 11 orang anak, laki-laki dan perempuan. Bedanya, Hisyam bin Malik meninggalkan warisan untuk anak laki-lakinya senilai 1 juta dinar (sekitar Rp 2.500.000.000.000) saat beliau telah dekat dengan kematian, sementara Umar bin Abdul Aziz hanya meninggalkan jatah untuk anak laki-lakinya senilai setengah dinar.

Saat Maslamah bin Abdul Malik memprotes akan hal ini, Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut anak-anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak oranglain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah; Anaknya Umar kemungkinan akan menjadi salah satu dari dua jenis, sholeh atau tidak sholeh, jika mereka sholeh maka Allah akan mencukupinya, jika mereka tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk bermaksiat kepada Allah.” (Umar Ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby).

Dua puluh tahun kemudian terekam sejarah, bahwa peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan, semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara, anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang diantara mereka menyumbang fii sabilillaah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan penunggang kuda.

Yang membedakan keduanya hanyalah keberkahan. Yang terpenting bukan seberapa besar jumlah angka yang ditinggalkan, tapi seberapa besar keyakinan kepada Allah yang Maha Mencukupi. Asuransi terbaik adalah dengan memenuhi syarat jaminan Allah, yakni anak-anak shalih/at hasil didikan orangtua.

Lantas, jika keberkahan berasal dari seberapa besar upaya kita untuk menjaga keshalihan dan ketaatan anak-anak kita, apa yang harus dilakukan sebagai bentuk tawakkal… Apakah harus kembali kepada asuransi?

Ini keputusan saya ya…untuk lebih mengikuti anjuran Rasulullah SAW dalam mencari garansi masa depan anak-anak. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari.

عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Dari Sahl bin Sa’ad r.a berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.”

Dalam hadits riwayat Thabrani disebutkan

مَنْ ضَمَّ يَتِيْمًا بَيْنَ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ فِيْ طَعَامِهِ وَ شَرَابِهِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Thobrani, Shahih At Targhib Al Albani bahwa: “Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim di antara dua orang tua Muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.”

Terdapat seorang lelaki datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabi pun bertanya padanya: sukakah kamu? Jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu dapat terpenuhi? Kasihilah anak yatim dengan mengusap mukanya, serta berilah makan dari makananmu, maka niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu dapat terpenuhi.”

Saya dalam hal ini, mungkin belum sampai pada maqom “ikut asuransi tapi hati bergantung pada Allah”. Karena syetan bisa menghembuskan kapan saja, menghilangkan was-was akan masa depan semata karena telah ikut asuransi. Karena itu, saya sedang mencoba anjuran Rasulullah ini, mohon doakan agar cara saya terbukti berhasil (insyaAllah selama didikan anak shalih dan shalihat). Semoga Allah mengkaruniakan umur panjang untuk menceritakan nikmatNya atas rezeki asuransi anak-anak saya kelak yang saya gantungkan pada Allah.

Kenapa saya menulis hal ini, pertama karena saya dan suami (karena asuransinya dibatalkan) adalah bukti bisa mengenyam pendidikan tanpa asuransi. Semata-mata doa orangtua, yang telah mewasiatkan kepada anak-anaknya bahwa warisan satu-satunya yang ditinggalkan kepada kami adalah pendidikan. Alhamdulillah, saya dan ketiga adik saya telah menyelesaikan kuliah S1 dengan perjuangan kedua orangtua yang berada dalam keterbatasan ekonomi. Tinggal 1 orang yang masih duduk di bangku SMA. Bagaimana tidak, hingga SMA saya tidak pernah merasakan nikmatnya listrik dan alat-alat elektronik, penerangan hanya dengan petromaks dan lampu kaleng dengan minyak tanah. Tidak ada toilet standar kesehatan, cukup setor dikolam dan bersuci di sumur yang berjarak dari rumah kayu. Menyeterika? Cukup dengan seterika besi dengan arang kayu yang dibakar. Hasilnya sama licinnya dengan seterika listrik, bedanya 2 hal kunci utama yaitu harus betah duduk berjam-jam lamanya karena hemat arang sampai padam, kedua adalah tidak meniup abu arang diatas pakaian. Maka jika bercerita tentang klasiknya hidup zaman tahun 1990an versi golongan kelas menengah kebawah, saya pernah mengalaminya.

Pun, saya tidak diwariskan ilmu agama yang mencukupi oleh orangtua. Bersekolah di sekolah negeri sejak SD hingga Perguruan Tinggi, membuat saya minim pengetahuan agama. Biidznillah, Allah membimbing saya dengan hidayah hijab dikelas 2 SMA dan ikut pengajian sejak kuliah, hasil belajar otodidak dari buku bacaan. Maka tak heran keluarga saya (dan suami) adalah penganut mazhab 2 anak cukup, karena semakin banyak anak semakin banyak beban yang harus ditanggung (kira-kira demikian). Memangnya kamu tidak punya perencanaan bagaimana pendidikan anak-anakmu kelak? Begitu kata orangtua.

Namun mengetahui bahwa Rasulullah SAW kelak akan membanggakan jumlah umatnya yang banyak, menjadi motivasi bagi diri untuk ikut andil meski keluarga tidak mendukung. Ya, sedikit demi sedikit pemahaman itu disampaikan pada keluarga, meski tidak mudah. Ok, bisa dimaklumi punya anak 3 karena 2 orang sebelumnya perempuan, sekarang sudah ada laki-laki mau cari apa lagi? Ah, bapak ibu… Andai kalian tau ada batas logika yang sulit disampaikan kecuali dipahami dengan logika keimanan… Ya, kami memikirkan tentang anak-anak kami, tapi ini bukan sekedar tentang harta saja…

Saya menulis ini karena merasa masih banyak diluar sana pasangan muda yang dihadapkan pada urusan dakwah keluarga ini. Apalagi jika belum mampu membuktikan bahwa banyak anak banyak rezeki… Adanya justru kerepotan-kerepotan baru dengan datangnya makhluk baru, apalagi jika jaraknya berdekatan dengan sang kakak. Saat itu kita tidak dengan mudah menyampaikan kepada keluarga mengenai 3 perkara yang tidak akan terputus setelah meninggal dunia, salah satunya doa anak yang shalih. Hehe, itukan nanti kalau meninggal… masa iya di dunia anak-anakmu pontang-panting cari rezekinya?

Maasya Allah, saya mendoakan agar kita sekalian diberikan keyakinan yang semakin kokoh akan rezeki Allah. Bahwa setiap yang bernyawa datang dengan kadar rezekinya masing-masing, sudah tertakar dan bahkan bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka selama bertawakkal kepada Allah. Semoga Allah juga memberikan keluasan dan kelapangan rezeki bagi keluarga dengan banyak anak, dan kekuatan serta kemampuan menjadikan amanahNya sebagai shalih shalihat pembuka pintu-pintu surga. Aamiin…

Oh ya, soal asuransi suami saya dan adiknya yang dibatalkan sepihak, sejatinya mereka menerimanya kok. Adik suami mendapat beasiswa unggulan untuk dapat meneruskan studi S2, yang saya yakin besarannya jauh diatas premi tabungan asuransi. Lalu suami saya, tabarakallaah…mendapatkan beasiswa S3 di luar negeri yang nominalnya miliaran rupiah jika ditotal sejak awal hingga akhir nanti. Kesimpulannya, uang asuransinya balik ngga? Harusnya jawabannya iya, Allah yang mengganti dari jalan yang lain. Berkali-kali lipat. Ini rezeki suami? Bisa jadi justru rezekinya anak-anak kami.

Saya dan suami, cukup belajar dari kisah keluarga kami sendiri. Setiap orang punya alasan mengikuti asuransi atau tidak bukan? Tapi dengan tulisan ini saya ingin menguatkan hati saya sendiri, dan mengajak pembaca untuk meyakini bahwa setiap anak datang dengan kadar rezekinya masing-masing, tugas kita hanya beriman dan bertawakkal, bekerja terbaik semoga rezeki-rezeki itu mengucur deras. Jika saat ini kehidupan masih terlihat susah dengan anak banyak yang masih kecil-kecil, dan harta dunia yang belum tampak… Bersabarlah, mungkin roda sedang berputar kebawah, insyaAllah suatu saat akan tiba diatas. Kalau punya rezeki ingin ikut asuransi, coba tengok kanan kiri, adakah anak yatim yang perlu bantuan disekitar. Saya yakin ada, coba dengan uang itu sekali saja dulu datangi ia, sedekahkan padanya, maka apa-apa yang kau butuhkan sejatinya ada didepan mata. Keyakinan kepada Allah yang terus tumbuh menguat, dan menimbulkan sensasi nagih untuk memberi lagi dan lagi. Saat itu, kita tak lagi butuh asuransi. Karena kita telah mengasuransikan semua harapan terbaik anak-anak kita di garansi langit.

Terdengar tak logis dan mistis ya? Ah, bukankah syarat orang beriman di QS. Al-Baqarah ayat 3 adalah beriman kepada yang ghaib? Bukankah seorang muslim tidak diajarkan materialistis? Yang saya ceritakan diatas adalah hal-hal ghaib tak kasat mata yang hanya bisa dicerna dengan iman, dan nominal yang ditawarkan pihak asuransi diatas kertas itu adalah hal materi yang kasat mata, yang bisa mengaburkan kepada siapa sebenarnya kita menyandarkan harapan masa depan.

Apakah kamu mengira telah beriman, sementara kamu belum diuji? Sungguh saya mendapati beberapa sahabat saya yang kesulitan mendapat keturunan, bahkan harus mengambil anak angkat sebagai penyejuk mata. Beberapa diantaranya diuji dengan masa penantian buah hati yang sangat panjang setelah pernikahan, atau jarak antara satu anak ke anak lainnya yang cukup panjang. Saya sering membayangkan, jika saya dalam posisi mereka, tentu saya tidak akan mampu dengan ujian itu. Dan jika anak-anak saya dibandingkan dengan nominal dunia yang siap ditukar, maka saya adalah orang paling kaya di dunia. Bilangan 3 menuju 4 saat ini bagi sebagian mungkin banyak, bagi saya sebanyak Allah masih mengamanatkan, insyaaAllah saya bahagia dengan ujian ini. Nilai ganjil impian saya adalah 7, kalaupun harus terhenti di angka 5 karena teror keluarga, saya cukup bahagia. Dan mengandung adalah karunia terbesar seorang hawa, bukan hanya di bilangan pertama dan kedua, tapi juga di kehamilan selanjutnya, berikutnya, dan seterusnya.

Pertimbangkan yang terbaik saat memutuskan KB, terutama efeknya bagi wanita dimasa menopouse nanti. Dan tahukan kalian para wanita, kalau Jepang sudah lama mendorong warganya agar meningkatkan populasi. Pun demikian China, dengan penduduk terbesar di dunia. Bayangkan mimpi mereka menguasai dunia dengan jumlah mereka yang terus ditingkatkan. Saya yakin Indonesia akan menyusul suatu saat nanti, pemerintahan yang mengganti program KB dengan hal serupa. Semoga kita semua dikaruniai Allah kekuatan dan kesabaran mendidik amanah Allah menjadi Ismail dan Fathimah era digital dengan keimanan total kepada-Nya.

Wallahu’alam bishshowab,

Kagawa, 7 Juli 2017
Curahan hati detak jantung mungilku,
I Love You
(Yenny Mulyati Alumni PPA Gorontalo angkatan ke 9)

2 Comments

  1. Artikelnya Sangat Menarik Untuk Menambah Pengetahuan Si Pembacanya Tp Alangkah Baiknya Jika Judul Nya Di Bikin Lebih Menarik Soalnya artikelnya Sangat Menarik tp Judul Kurang Cocok Gan

Comments are closed.