TOPENG KESHALIHAN

TOPENG KESHALIHAN

Kajian Tauhid Seri Al-Hikam :

By: Muhtar Fatony

Kawan, pernah ga kita mendengar ada sahabat yang mengatakan begini:
“Mas, saya pengen seperti mas yang sudah bisa menjadi contoh buat kawan-kawan yang ingin hijrah”.
“Rasanya gimana sih, bisa merutinkan shalat dhuha sampe 12 rakaat padahal mas kan orangnya sibuk, kasih nasehat doong…”
“Mbak, jilbabnya besar pasti pantes deh jadi istri yang saleha idaman ikhwan…”
“Anaknya kok sudah banyak hafalannya, apa sih resepnya jadi ibu yang pandai ngajarin al-Quran?’

Atau mungkin kita terbersit ingin dinilai sebagai..
Orang yang sudah melaksanakan Qiyamullail tersebab kiriman pesan nasehat di ujung sepertiga malam…
Orang yang lebih istiqomah tersebab sudah bisa menjadi guru, Ustadz, trainer dan pemberi wejangan di masyarakat atau komunitas …
Foto selfie kita di bersama ustadz atau tokoh tertentu…
Asyik dengan penilaian orang dari foto2 samara penuh bahagia di medsos bahwa kita sebagai keluarga penuh cinta..

Bisa jadi kawan…, orang lain menyangka kita … kesalihan kita sebaik nasehat yang tersampaikan, sesalih tutur indah yang diucapkan… senyata foto selfie di momen-momen ketaatan … setawadhu’ hamba-hamba mulia dari para ulama’ wira’i pada zamannya… padahal jika mau jujur apa yang dinilai mereka pada diri ini tidaklah seperti yang disangkakan… jauuh dari kenyataan … Orang lain menyangka/menilai salih padahal diri ini masih berlumur maksiat …

Dalam hidup ini, selain dzon (dugaan/sangkaan) adalah yakinnya akan kenyataan (yaqiinan dzahiriyan). Maksud saya, jika orang lain menilai/mendugasangka kita.. sekalipun itu sangkaan baik.. penilaian baik… tapi sejatinya yang tahu kenyataan sebenarnya adalah kita sendiri dan Allah tentunya…

“ Iya.., itu kan penilaian mereka, dan memang kita tidak lah seperti yang disangkakan mereka”
Iya.. tapi Yang akan menjadi Allah tidak ridha adalah… kita lebih senang dan suka dengan dzonnya mereka sekaligus di saat yang sama melupakan pada perbaikan diri atas ketidakbenaran sangkaannya..

Kawan-kawan.., berhati-hatilah dengan persangkaan orang lain, persangkaan baik (dzan) nya orang lain pada kita.

Persangkaan buruk (su’udzan) orang lain yang kenyataannya tidak sesuai pada kita, akan membuat hati tenang (sebab Allah tahu)…
Tapi Persangkaan baik (husnudzan) orang lain yang kenyataannya tidak sesuai dengan kenyataan diri, akan membuat diri terlena …

Penilaian baik orang itu bisa memacu diri. Penilaian apapun dia belum tentu seperti keadaan sebenarnya, penilaian itu masih dzan (persangkaan). Yang lebih tahu adalah diri ini sendiri… Tapi jika persangkaan baik itu membuat kita menafikan yang dzohiriyah (keadaan sebenarnya) … melupakan pada muhasabah dan perbaikan diri… melalaikan dari permintaan kita sebagai hamba untuk selalu minta tolong kepada-Nya dan berlindung dari kejelekan dan nistanya diri.. (wana’uudzubillahi min sururi anfusinaa … wasayyiaati a’maalinaa…) sampai tertipu diri atas penilaian indah manusia… sehingga setiap hari kerjaannya hanya memoles .. memoles dan memoles topeng.. lupa dengan kesejatiannya diri…

Jika diri ini bertanya… yakin mana, antara apa yang disangkaan orang dengan kenyataan diri ini… Kemudian dari sangkaan itu kita melupakan/meninggalkan yakinnya akan kenyataan dan kekurangan diri… lebih ngikutin dan senang atas penilaian orang lain.. maka seorang ahli hikmah mengatakan inilah bentuk dari sebodoh-bodohnya manusia… inilah yang dimaksud dengan nasehat hikmah Ibnu Athailah dalam kitabnya Al-Hikam:

أجهل الناس من ترك يقين ما عنده لظن ما عند الناس

“Sebodoh-bodohnya manusia adalah ia yang meninggalkan keyakinan yang ada padanya tersebab terbawa oleh apa yang disangkakan kebanyakan orang”.

Suatu hari Ali bin Abi Thalib r.a. berkata ketika orang lain mengatakan penilaian baik padanya:
“Ya Allah, ampunilah diriku karena sesuatu yang tidak mereka ketahui dan janganlah Engkau menyiksa diriku karena apa yang mereka katakan dan jadikanlah diriku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan.”
Sufyan bin Uyainah berkata: “Sangkaan baik itu tidak akan membahayakan orang yang memperhatikan dan memperbaiki (kenyataan) pada dirinya.”

“Ya Allah, sesungguhnya mereka tidak mengetahui diriku, sedang Engkau mengetahui diriku.”

So, teruslah bergerak kawan-kawan…
Bergerak tiada henti… untuk memperbaiki diri, menjaga Cinta pada Allah, dan bekerja untuk-Nya …memohon Ridho-Nya… hatta ya’tiyallaahu biamrihi (sampai Allah SWT menetapkan ketentuan terbaikNya)..

Wallaahua’lam bishawwab
#MenemaniPerjalananCintaPada-Nya

Subang, 25 Oktober 2016 – 26 Muharram 1438
Muhtar Fatony W

Ajal Tak Menunggu Kita Bertaubat

Ajal Tak Menunggu Kita Bertaubat

 

By: Dedy Irawan

Seringkali ada pertanyaan seperti ini
Mas, dosa saya sudah terlalu banyak..
Diri ini begitu kotor mas..
Saya malu sama Allah..
Karna sudah banyak melanggar aturan-aturan NYA..
Apa saya masih bisa diampuni mas?
Apa saya masih bisa bertaubat?

Jawabannya adalah tidak ada kata terlambat untuk bertaubat..
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..
Pintu ampunanNYA selalu terbuka dan menerima taubat hamba NYA yang ingin benar-benar kembali..
Sebanyak apapun dosa-dosa hambaNYA

Dari Abu Sa`id Sa`ad bin Malik bin Sinan Al- Khudriy ra. Nabi SAW bersabda :

“Sebelum kalian, ada seorang laki-laki membunuh 99 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk sekitar tentang seorang yang alim, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib ( pendeta Bani Israil). Setelah mendatanginya, ia menceritakan bahwa ia telah membunuh 99 orang, kemudian ia bertanya : “ Apakah ia bisa bertaubat?”. Ternyata pendeta itu menjawab : “Tidak” Maka pendeta itupun dibunuh sehingga genaplah jumlahnya seratus. Kemudian ia bertanya lagi tentang seorang yang paling alim di atas bumi ini. Ia ditunjukkan kepada seorang laki-laki alim. Setelah menghadap ia bercerita bahwa dirinya telah membunuh seratus jiwa, dan bertanya : “ Bisakah saya bertaubat?” Orang alim itu menjawab: “Ya, siapakah yang akan menghalangi orang bertaubat? Pergilah kamu ke kota ini (menunjukkan ciri-ciri kota yang dimaksud) sebab di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah Ta`ala. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan kembali ke kotamu. Karena kotamu kota yang jelek!” Lelaki itupun berangkat, ketika menempuh separuh perjalanan maut menghampirinya. Kemudian timbullah perselisihan antara malaikat Rahmat dengan malaikat Azab, siapakah yang lebih berhak membawa rohnya. Malaikat Rahmat beralasan bahwa : “Orang ini datang dalam keadaan bertaubat, lagi pula menghadapkan hatinya kepada Allah.” Sedangkan malaikat Azab (bertugas menyiksa hamba Allah yang berdosa) beralasan: “Orang ini tidak pernah melakukan amal baik.” Kemudian Allah SWT. mengutus malaikat yang menyerupai manusia mendatangi keduanya untuk menyelesaikan masalah itu dan berkata: “ Ukurlah jarak kota tempat ia meninggal antara kota asal dan kota tujuan, Manakah lebih dekat, maka itulah bagiannya.” Para malaiakat itu lalu mengukur, ternyata mereka mendapati si pembunuh meninggal dekat kota tujuan, maka malaikat Rahmatlah yang berhak membawa roh orang tersebut.” ( H.R Bukhari dan Muslim ).

Yuk perbanyak bertaubat, jangan sampai terlambat karena AJAL bisa datang kapan pun..

“Ajal tak menunggu kita bertaubat”
Maka bersegeralah..

Gresik, 29 oktober 2016
menjelang Private class PPA Gresik

Luas Itu Panjang Kali Lebar

Luas Itu Panjang Kali Lebar

#LuasituPanjangkalilebar

By: Kang Helmy

Subhanallah wabihamdihi 100x

Tau kan rumus luas?..

Luas = panjang x lebar

Ternyata rumus luas itu juga bs digunakan untuk melihat seberapa efektif anda mempraktikkan kunci poin 1 dalam PPA :
Niat yg diluaskan.

Start with “why?”

Apa niat anda? Mengapa keinginan anda harus terkabulkan dan mengapa masalah anda harus segera diselesaikan?

Ingat rumus “luas” dan perhatikan seberapa “panjang” pemikiran anda akan cara Allah menjawab doa anda.
Cara Allah bisa cepat-bisa lambat.. Bisa akurat dan presisi, bisa pula lain bentuk dan wujudnya, namun jika dibaca pesan cintaNya tetap menuju kepada pengabulan dan kemudahan hajat anda, dengan caraNya.

Cek pula seberapa “lebar” do’a anda memiliki dampak kepada sesama, siapa saja yg terlibat dalam doa anda, dan seberapa banyak orang yang – ketika doa itu dikabulkan – akan bersama menerima hadiahNya.

tidak ada lagi kekhawatiran akan pandangan orang lain, karena tiada hal lain selain mengejar penilaian dan ridhoNya.

Mantapkan hati agar sampai pada level -dikabulkan atau tidak- menjadi tidak masalah, karena bukan itu tujuan sejatinya.

Masalah sering kali kita sendiri yang mengundang, karena kekurangyakinan kita akan Allah yang Maha Mencukupi.

Keinginan pun juga timbul karena dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita berinteraksi, yakinkan hanya Allah SWT sumber segala inspirasi keinginan anda.

..ajak orang lain agar mereka memiliki pemahaman yang sama.
Belum paham?… Relax… And enjoy the ride!!
Keep the husnudzon spirit!!

Unwrap the “TAUHID” package..

✊ Allohu ghoyyatuna..

UBI PELANGI

UBI PELANGI

UBI PELANGI

By: Rezha Rendy

 

Ada kejadian yang buat saya senyum-senyum sendiri hehehe..

Gimana nggak coba?

Semenjak ngisi PPA yang sekarang alhamdulillah sudah menjelang 500 angkatan dan ribuan kasus yang diajukan di papan tulis, baru kali ini ada peserta bapak-bapak yang mengangkat tangannya dan mengajukan keinginan..

“Mas tolong ditulis saya mau nikah lagi.”

WHAT?!
Sontak saya yang sudah siap nulis harapan peserta langsung berhenti nulis dan senyum-senyum sendiri pasalnya satu kelas yang dihadiri 30an peserta semua tertawa bahkan bapak itu pun tertawa juga.

Tidak ada yang salah sih dengan keinginannya cuma ya kok berani-beranian ngomong didepan banyak orang.

“Ini beneran pak?” Tanya saya sambil senyum.
“Iya mas beneran.” Jawabnya.
“Kalau boleh tau kenapa gitu pak pengen nikah lagi?”

Dan jawabannya membuat saya kaget.

“Mau ngetest Allah aja mas.”

WHAT?! Hhhh… saya menghela nafas mencoba langsung menasihati saat itu namun saya urungkan. Nanti sajalah.. karena kalau diingatkan saat itu terkesan menghakimi. Biarlah Allah yang jelasin sendiri saya mah siapin diri aja untuk digerakan ngomong.

Hingga tibalah materi yang membahas tentang JEBAKAN ILUSI KEINGINAN.

“Kawan-kawan, hati-hati terjebak dengan keinginan kita sendiri yang memenjarakan kebahagiaan hidup kita. Jangan dipikir kalau Anda dapat yang sedang Anda kejar itu Anda akan senang selamanya. Tidak! Itu ilusi saja.. Bahagia itu bukan karena sesuatu tapi karena bisa menikmati apa yang ada. Kalau memusingi apa yang belum ada maka ngga akan pernah bahagia.”

Saya jadi teringat kisah Abu Nawas yang memiliki istri sangat cantik di kampungnya. Setiap istrinya melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul pasti semua mata menatap kepadanya. Mending tatapannya biasa aja.. tapi ini gimanaaa gitu.. dan digodain pula lagi.

“Beruntung banget ya Abu Nawas istrinya cantik. Ngga bosenin kali ya tiap hari kalau lihat dirumah..”

Tuh lihat.. pada ngayal aja kerjaannya.. padahal istri dirumah mereka ya ngga kalah cantiknya. Namun itulah manusia.. yanggg,,,, ah sudahlah hehe.. Nafsu terus yang dikedepankan.

Istri Abu Nawas akhirnya pulang dengan sedikit belari ke rumah dan nangis didepan Abu Nawas. Kemudian menceritakan apa yang dialaminya tadi di jalan.

Apa yang dilakukan Abu Nawas??

Dia malah beli ubi di pasar dan memotong-motong ubi tersebut kemudian dimasak dengan diberi warna yang berbeda-beda. Setelah masakan jadi dia memanggil orang-orang yang menggoda istrinya tadi untuk diajak makan bareng. Kalau kita mungkin sekalian dicampur sianida kali yah hehehe… ^^.

“Ayo silahkan dimakan jangan malu-malu..” Abu Nawas mempersilahkan tamunya untuk makan.

Masing-masing mendapatkan warna yang berbeda.. ada yang dapat warna kuning, merah, hijau dan ungu.

Nih perhatikan..
Lucunya adalah ketika yang mendapat warna kuning sedang makan dia melihat orang yang makan warna merah trus dia jadi mau tapi ngga berani.
Yang makan warna merah melihat temannya makan warna hijau jadi mau juga..
Yang makan warna hijau melihat temannya makan warna ungu jadi mau juga..
Yang ungu pun demikian, lihat warna merah jadi mau juga.

“Kenapa? Kalian ingin mencicipi menu yang lain? Silahkan saja.. saling mencicipi.” Abu Nawas mempersilahkan.

Setelah mereka saling mencicipi wajah mereka keheranan dan mikir-mikir hehe.. kemudian mereka memberanikan diri bertanya kepada Abu Nawas.

“Maaf.. ini ko rasanya sama yah? Apa lidah saya yang salah?”

Abu Nawas yang mendengar pertanyaan itu tersenyum kecil merasa menang dan berkata.

“Ya memang rasanya sama.. semua hanyalah ubi namun saya kasih warnanya saja yang berbeda.

Ketahuilah kalian bahwa rasa istriku dan rasa istrimu dirumah itu SAMA SAJA yang beda hanya casingnya saja!”

Hahahaha…. ^^.
Selamat Anda tertipu ilusi Anda sendiri kawan hehehe..

Sontak semua peserta yang ada di kelas tertawa terbahak-bahak. Bahkan di kelas saat itu ada kawan saya yang istrinya memang 2 dan ketawa paling keras. Dia bilang…

“Hahahaha… iya mas bener rasanya sama aja. Malah nambah pusing! Hahahaha.”

Dan tahukah Anda apa yang terjadi dengan si bapak tadi? 😀

Dia ngga jadi nulis permintaan nikah lagi tadi di proposal cintanya, dia bilang..

“Kalau rasanya sama aja ya ngapain mas hehehe…”

Itulah sepenggal kisah saya saat mengisi private class PPA.

Kawan..
Jangan tertipu ilusi-ilusi Anda sendiri yah. Jangan berpikir kalau Anda dapat sesuatu seneng selamanya. Nggak! Itu sementara trus hilang lagi dan muncul keinginan lainnya lagi yang menyita kebahagiaan Anda.

Saya mah nggak mempermasalahkan nikahnya lho ya hehehe.. Namun pesan saya jika memang siap untuk adil maka monggo saja. Adil dalam pandangan Allah bukan menurut nafsu Anda pribadi lho. Kasihan lah nasib orang lain kalau hanya jadi korban “UBI PELANGI” (nafsu/ilusi keinginan Anda saja). Efeknya bukan cuma Anda namun orang-orang yang Anda sayangi juga kena.

Kasus ini banyak banget soalnya yang datang ke saya. Bukan cuma untuk bapak-bapak. Mba-mba pun gitu… Maaf, punteeenn…. kalau sudah dateline kebanyakan prinsipnya “yang penting ada”. hehehe..

Akhirnya siapapun yang datang mah hayuk aja.. sekalipun sudah punya keluarga. Nah kan, klop!

Yang laki-laki bawa “UBI PELANGI”nya sendiri yang perempuan juga bawa “UBI PELANGINYA” sendiri. Hehehe.. nanti deh saya bahas di materi “BUNGKUS dan ISI”.

Oke.. diluar konteks nikah ^^.

Intinya adalah hidup Anda jangan dihabiskan dengan melihat rumput tetangga terus yang sepertinya lebih hijau. Tau kenapa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri?

Karena mereka banyak syukurin kebunnya dengan disibukkan menyiram dan menanam. Sementara kita sibuk ngeliatin aja.. hehehe..

Setuju?
Share yang setuju yah biar ngga makin banyak orang yang mabok “UBI PELANGI”.. ^^

DREAMBOOK

DREAMBOOK

 

DREAMBOOK?
#JFoA

By : Sonny Abi Kim

Mimpi? Ambisi?
Ah, rasanya dua kata diatas sudah lama sekali berubah maknanya bagi diri saya.

Mimpi/ambisi yang saya pahami 3-4 tahun ke belakang sangat berbeda sekali dengan apa yang saya maknai beberapa waktu kemudian.

Seberapapun ‘terlihat’ mulianya mimpi/ambisi saya ketika itu dulu, namun (diakui atau tidak) spirit dari mimpi dan ambisi itu adalah Tuhan-Tuhan lain selain diriNya.

Meskipun di mulut namaNya lah yang disebut, bahkan namaNya pula yang tercantum dalam dreambook itu, namun hati ini menghadap kepada selainNya.

Ya, Tuhan-Tuhan lain itu diantaranya adalah pengakuan, penghargaan, penilaian, kekaguman, cinta, dan pujian manusia.

Setiap apapun yang dilakukan ketika itu, mulai dari berbicara, bersikap, update status medsos, pasang foto, presentasi, tampil di panggung, berdagang, menulis buku, mengambil keputusan untuk membeli sesuatu, dan lain sebagainya, semuanya dipersembahkan demi Tuhan-Tuhan lain itu.

Jauh rasanya hati ini dari berpuas diri dengan penilaian dariNya.

Apa indikasinya? Mudah saja, ketika masih ada rasa harap pada Tuhan-Tuhan lain itu (pengakuan dan penilaian manusia), maka kita akan menjadi orang yang;
-mudah tersinggung
-banyak kecewa
-selalu ingin diketahui org lain
-sering sakit hati
-sering mendengki
-sulit merendahkan hati
-berkobar semangat bersaing dalam urusan dunia
-resah gelisah
-lelah
-dan lain sejenisnya.

Bahkan disaat itu pula seolah mimpi/ambisi akan terasa semakin menjauh untuk diwujudkan. Jikalau pun sampai terwujud, betapa lelah proses utk menggapainya, tak ada kenikmatan, tak ada keberkahan.

Sampai akhirnya kesadaran itu hadir, dan seringkali memang dihadirkan oleh pengalaman hidup dalam bentuk kepahitan, kesakitan, kesusahan, kesempitan, atau bentuk lainnya yang rasanya tidak enak.

Seperti yang dikatakan Imam Syafii;
“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan atasmu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”

Ada 1 ambisi yang akan membuat hidup ini ringan, bahagia, indah, berkah, dan ternikmati. Ambisi yang akan membingkai semua keinginan dan harapan.

Ambisi itu adalah keridhoanNya, ambisi untuk menjadi hamba yang diridhoiNya. Titik.

Jika sudah seperti itu, sudah tidak ada lagi urusan untuk mengalahkan orang lain atau menjadi yang terbaik dibandingkan yang lain dalam urusan dunia, melainkan hanya ingin bersinergi dan berkontribusi, memberi manfaat sebesar-besarnya kepada siapapun.

Jika sudah seperti itu, hilang sudah perasaan selalu merasa kurang, melainkan hadir hati yang selalu merasa cukup, jiwa yang penuh dengan cinta dan kedamaian.

Jika sudah seperti itu, hilang sudah perasaan ingin selalu tampil & menonjolkan diri, melainkan hadir kesadaran untuk berbagi peran untuk pencapaian sebuah misi.

Jika sudah seperti itu, hilang sudah ego dan pemaksaan kehendak diri, melainkan yang hadir adalah ikhtiar-ikhtiar yang menentramkan dalam bingkai kepasrahan, ikhtiar yang berbalut ketenangan, ketenangan yang berasal dari keyakinan akan jaminanNya.

Karena mimpi/ambisi layaknya sebuah doa, meminta dan mengusahakannya adalah sebuah kebaikan, namun perkara dikabulkan atau tidak – terwujud atau tidak – Dialah yang Maha Tahu mana yang terbaik bagi hambaNya.

Memurnikan niatnya, menyempurnakan langkahnya, lalu memasrahkan hasilnya.

Jika yang diinginkan adalah ridhoNya, maka akan mudah pula kita memiliki hati yang selalu ridho terhadap apapun kejadian, takdir, dan semua yang menjadi ketetapanNya.

Namun anehnya, ketika mimpi/ambisi selain keridhoanNya sudah tak ada lagi di hati, satu demi satu dari mimpi-mimpi itu seperti terus mendekat dalam genggaman. Ya, cukup dalam genggaman.

Tanpa sengaja saya membuka dreambook tahun 2008, hampir semua yang tertulis disana sudah terwujud, sedangkan sebagian lainnya semakin mendekat.

Ya, justru itu terjadi disaat kita sudah tidak berharap apapun, kecuali keridhoan dan ampunanNya.

Teringat salah satu sabda Rasul;
“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai b

eraikan urusannya, lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkan saja. Sedangkan, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta”.
(HR Al Baihaqi dan Ibnu Hibban)
#MenemaniPerjalananCintaPadaNya

Sonny Abi Kim

Selepas Shubuh
3 Muharram 1438 H
4 Oktober 2016 M

#PPA