UBI PELANGI

UBI PELANGI

UBI PELANGI

By: Rezha Rendy

 

Ada kejadian yang buat saya senyum-senyum sendiri hehehe..

Gimana nggak coba?

Semenjak ngisi PPA yang sekarang alhamdulillah sudah menjelang 500 angkatan dan ribuan kasus yang diajukan di papan tulis, baru kali ini ada peserta bapak-bapak yang mengangkat tangannya dan mengajukan keinginan..

“Mas tolong ditulis saya mau nikah lagi.”

WHAT?!
Sontak saya yang sudah siap nulis harapan peserta langsung berhenti nulis dan senyum-senyum sendiri pasalnya satu kelas yang dihadiri 30an peserta semua tertawa bahkan bapak itu pun tertawa juga.

Tidak ada yang salah sih dengan keinginannya cuma ya kok berani-beranian ngomong didepan banyak orang.

“Ini beneran pak?” Tanya saya sambil senyum.
“Iya mas beneran.” Jawabnya.
“Kalau boleh tau kenapa gitu pak pengen nikah lagi?”

Dan jawabannya membuat saya kaget.

“Mau ngetest Allah aja mas.”

WHAT?! Hhhh… saya menghela nafas mencoba langsung menasihati saat itu namun saya urungkan. Nanti sajalah.. karena kalau diingatkan saat itu terkesan menghakimi. Biarlah Allah yang jelasin sendiri saya mah siapin diri aja untuk digerakan ngomong.

Hingga tibalah materi yang membahas tentang JEBAKAN ILUSI KEINGINAN.

“Kawan-kawan, hati-hati terjebak dengan keinginan kita sendiri yang memenjarakan kebahagiaan hidup kita. Jangan dipikir kalau Anda dapat yang sedang Anda kejar itu Anda akan senang selamanya. Tidak! Itu ilusi saja.. Bahagia itu bukan karena sesuatu tapi karena bisa menikmati apa yang ada. Kalau memusingi apa yang belum ada maka ngga akan pernah bahagia.”

Saya jadi teringat kisah Abu Nawas yang memiliki istri sangat cantik di kampungnya. Setiap istrinya melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul pasti semua mata menatap kepadanya. Mending tatapannya biasa aja.. tapi ini gimanaaa gitu.. dan digodain pula lagi.

“Beruntung banget ya Abu Nawas istrinya cantik. Ngga bosenin kali ya tiap hari kalau lihat dirumah..”

Tuh lihat.. pada ngayal aja kerjaannya.. padahal istri dirumah mereka ya ngga kalah cantiknya. Namun itulah manusia.. yanggg,,,, ah sudahlah hehe.. Nafsu terus yang dikedepankan.

Istri Abu Nawas akhirnya pulang dengan sedikit belari ke rumah dan nangis didepan Abu Nawas. Kemudian menceritakan apa yang dialaminya tadi di jalan.

Apa yang dilakukan Abu Nawas??

Dia malah beli ubi di pasar dan memotong-motong ubi tersebut kemudian dimasak dengan diberi warna yang berbeda-beda. Setelah masakan jadi dia memanggil orang-orang yang menggoda istrinya tadi untuk diajak makan bareng. Kalau kita mungkin sekalian dicampur sianida kali yah hehehe… ^^.

“Ayo silahkan dimakan jangan malu-malu..” Abu Nawas mempersilahkan tamunya untuk makan.

Masing-masing mendapatkan warna yang berbeda.. ada yang dapat warna kuning, merah, hijau dan ungu.

Nih perhatikan..
Lucunya adalah ketika yang mendapat warna kuning sedang makan dia melihat orang yang makan warna merah trus dia jadi mau tapi ngga berani.
Yang makan warna merah melihat temannya makan warna hijau jadi mau juga..
Yang makan warna hijau melihat temannya makan warna ungu jadi mau juga..
Yang ungu pun demikian, lihat warna merah jadi mau juga.

“Kenapa? Kalian ingin mencicipi menu yang lain? Silahkan saja.. saling mencicipi.” Abu Nawas mempersilahkan.

Setelah mereka saling mencicipi wajah mereka keheranan dan mikir-mikir hehe.. kemudian mereka memberanikan diri bertanya kepada Abu Nawas.

“Maaf.. ini ko rasanya sama yah? Apa lidah saya yang salah?”

Abu Nawas yang mendengar pertanyaan itu tersenyum kecil merasa menang dan berkata.

“Ya memang rasanya sama.. semua hanyalah ubi namun saya kasih warnanya saja yang berbeda.

Ketahuilah kalian bahwa rasa istriku dan rasa istrimu dirumah itu SAMA SAJA yang beda hanya casingnya saja!”

Hahahaha…. ^^.
Selamat Anda tertipu ilusi Anda sendiri kawan hehehe..

Sontak semua peserta yang ada di kelas tertawa terbahak-bahak. Bahkan di kelas saat itu ada kawan saya yang istrinya memang 2 dan ketawa paling keras. Dia bilang…

“Hahahaha… iya mas bener rasanya sama aja. Malah nambah pusing! Hahahaha.”

Dan tahukah Anda apa yang terjadi dengan si bapak tadi? 😀

Dia ngga jadi nulis permintaan nikah lagi tadi di proposal cintanya, dia bilang..

“Kalau rasanya sama aja ya ngapain mas hehehe…”

Itulah sepenggal kisah saya saat mengisi private class PPA.

Kawan..
Jangan tertipu ilusi-ilusi Anda sendiri yah. Jangan berpikir kalau Anda dapat sesuatu seneng selamanya. Nggak! Itu sementara trus hilang lagi dan muncul keinginan lainnya lagi yang menyita kebahagiaan Anda.

Saya mah nggak mempermasalahkan nikahnya lho ya hehehe.. Namun pesan saya jika memang siap untuk adil maka monggo saja. Adil dalam pandangan Allah bukan menurut nafsu Anda pribadi lho. Kasihan lah nasib orang lain kalau hanya jadi korban “UBI PELANGI” (nafsu/ilusi keinginan Anda saja). Efeknya bukan cuma Anda namun orang-orang yang Anda sayangi juga kena.

Kasus ini banyak banget soalnya yang datang ke saya. Bukan cuma untuk bapak-bapak. Mba-mba pun gitu… Maaf, punteeenn…. kalau sudah dateline kebanyakan prinsipnya “yang penting ada”. hehehe..

Akhirnya siapapun yang datang mah hayuk aja.. sekalipun sudah punya keluarga. Nah kan, klop!

Yang laki-laki bawa “UBI PELANGI”nya sendiri yang perempuan juga bawa “UBI PELANGINYA” sendiri. Hehehe.. nanti deh saya bahas di materi “BUNGKUS dan ISI”.

Oke.. diluar konteks nikah ^^.

Intinya adalah hidup Anda jangan dihabiskan dengan melihat rumput tetangga terus yang sepertinya lebih hijau. Tau kenapa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri?

Karena mereka banyak syukurin kebunnya dengan disibukkan menyiram dan menanam. Sementara kita sibuk ngeliatin aja.. hehehe..

Setuju?
Share yang setuju yah biar ngga makin banyak orang yang mabok “UBI PELANGI”.. ^^

DREAMBOOK

DREAMBOOK

 

DREAMBOOK?
#JFoA

By : Sonny Abi Kim

Mimpi? Ambisi?
Ah, rasanya dua kata diatas sudah lama sekali berubah maknanya bagi diri saya.

Mimpi/ambisi yang saya pahami 3-4 tahun ke belakang sangat berbeda sekali dengan apa yang saya maknai beberapa waktu kemudian.

Seberapapun ‘terlihat’ mulianya mimpi/ambisi saya ketika itu dulu, namun (diakui atau tidak) spirit dari mimpi dan ambisi itu adalah Tuhan-Tuhan lain selain diriNya.

Meskipun di mulut namaNya lah yang disebut, bahkan namaNya pula yang tercantum dalam dreambook itu, namun hati ini menghadap kepada selainNya.

Ya, Tuhan-Tuhan lain itu diantaranya adalah pengakuan, penghargaan, penilaian, kekaguman, cinta, dan pujian manusia.

Setiap apapun yang dilakukan ketika itu, mulai dari berbicara, bersikap, update status medsos, pasang foto, presentasi, tampil di panggung, berdagang, menulis buku, mengambil keputusan untuk membeli sesuatu, dan lain sebagainya, semuanya dipersembahkan demi Tuhan-Tuhan lain itu.

Jauh rasanya hati ini dari berpuas diri dengan penilaian dariNya.

Apa indikasinya? Mudah saja, ketika masih ada rasa harap pada Tuhan-Tuhan lain itu (pengakuan dan penilaian manusia), maka kita akan menjadi orang yang;
-mudah tersinggung
-banyak kecewa
-selalu ingin diketahui org lain
-sering sakit hati
-sering mendengki
-sulit merendahkan hati
-berkobar semangat bersaing dalam urusan dunia
-resah gelisah
-lelah
-dan lain sejenisnya.

Bahkan disaat itu pula seolah mimpi/ambisi akan terasa semakin menjauh untuk diwujudkan. Jikalau pun sampai terwujud, betapa lelah proses utk menggapainya, tak ada kenikmatan, tak ada keberkahan.

Sampai akhirnya kesadaran itu hadir, dan seringkali memang dihadirkan oleh pengalaman hidup dalam bentuk kepahitan, kesakitan, kesusahan, kesempitan, atau bentuk lainnya yang rasanya tidak enak.

Seperti yang dikatakan Imam Syafii;
“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan atasmu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”

Ada 1 ambisi yang akan membuat hidup ini ringan, bahagia, indah, berkah, dan ternikmati. Ambisi yang akan membingkai semua keinginan dan harapan.

Ambisi itu adalah keridhoanNya, ambisi untuk menjadi hamba yang diridhoiNya. Titik.

Jika sudah seperti itu, sudah tidak ada lagi urusan untuk mengalahkan orang lain atau menjadi yang terbaik dibandingkan yang lain dalam urusan dunia, melainkan hanya ingin bersinergi dan berkontribusi, memberi manfaat sebesar-besarnya kepada siapapun.

Jika sudah seperti itu, hilang sudah perasaan selalu merasa kurang, melainkan hadir hati yang selalu merasa cukup, jiwa yang penuh dengan cinta dan kedamaian.

Jika sudah seperti itu, hilang sudah perasaan ingin selalu tampil & menonjolkan diri, melainkan hadir kesadaran untuk berbagi peran untuk pencapaian sebuah misi.

Jika sudah seperti itu, hilang sudah ego dan pemaksaan kehendak diri, melainkan yang hadir adalah ikhtiar-ikhtiar yang menentramkan dalam bingkai kepasrahan, ikhtiar yang berbalut ketenangan, ketenangan yang berasal dari keyakinan akan jaminanNya.

Karena mimpi/ambisi layaknya sebuah doa, meminta dan mengusahakannya adalah sebuah kebaikan, namun perkara dikabulkan atau tidak – terwujud atau tidak – Dialah yang Maha Tahu mana yang terbaik bagi hambaNya.

Memurnikan niatnya, menyempurnakan langkahnya, lalu memasrahkan hasilnya.

Jika yang diinginkan adalah ridhoNya, maka akan mudah pula kita memiliki hati yang selalu ridho terhadap apapun kejadian, takdir, dan semua yang menjadi ketetapanNya.

Namun anehnya, ketika mimpi/ambisi selain keridhoanNya sudah tak ada lagi di hati, satu demi satu dari mimpi-mimpi itu seperti terus mendekat dalam genggaman. Ya, cukup dalam genggaman.

Tanpa sengaja saya membuka dreambook tahun 2008, hampir semua yang tertulis disana sudah terwujud, sedangkan sebagian lainnya semakin mendekat.

Ya, justru itu terjadi disaat kita sudah tidak berharap apapun, kecuali keridhoan dan ampunanNya.

Teringat salah satu sabda Rasul;
“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai b

eraikan urusannya, lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkan saja. Sedangkan, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta”.
(HR Al Baihaqi dan Ibnu Hibban)
#MenemaniPerjalananCintaPadaNya

Sonny Abi Kim

Selepas Shubuh
3 Muharram 1438 H
4 Oktober 2016 M

#PPA

Kaya Nggak Percaya?!

Kaya Nggak Percaya?!

 

unta

Assalamu’alaikum wr.wb
Subhanallah wabihamdihi 100x.

Akhir-akhir ini sepertinya ada pesan cinta yang harus kami baca dari Allah yang dihadirkan didepan mata kami sebagai PPA Institute, karena kejadiannya berulang namun hanya konteksnya saja yang berbeda. Yaitu tentang “Total Bergantung”.

Sepetinya ada kesalah pahaman tetang memaknai materi 20:80 dan Total bergantung.
Bismillah saya akan coba bantu kembali menjelaskan kepada teman-teman semua.. walaupun sebenarnya sudah saya jelaskan secara gamblang di Bab “Ikhtiar Iman Maximal” dan “Tawakal Burung”

Kajian ini menjelaskan lebih dalam mengenai materi-materi yang ada di private class PPA. Namun bagi Anda yang belum ikut PPA tenang saja.. bisa dengan baca buku atau baca saja semua kajian dan Audio Kajian (Download Disini) yang ada di website ini.

Saya mulai dari menjelaskan tentang konsep 20:80 yah kawan..
jadi yang saya maksud disini BUKAN begini..
“Jadi ikhtiar mah ngga usah kenceng-kenceng, ngga usah maximal, santai aja… kurangin jadi 20% saja.”

Itu FATAL!

Kenapa saya bilang FATAL??

Karena kalau Anda berpikir seperti itu maka Private Class PPA ini hanya akan menghasilkan orang-orang yang lemah aja tuh.. orang-0rang males yang berangan-angan mendapatkan miracle jatuh dari langit.

Masbro.. miracle itu adalah EFEK bukan HADIAH. Efek dari ketakwaan, tawakal, keimanan, dan semua aspek yang dimaximalkan.

Yang BENAR adalah seperti ini..

“100% ikhtiar Anda itu hanya akan menyumbangkan 20% dari 100% hasil. Lihat?! 100% aja cuma ngasih 20% apalagi ngga 100%”

referensi ayatnya yang berkata bahwa ikhtiar itu bukan faktor utama dari hasil tapi melainkan Allah bisa dicek nih..

QS. Fathir: 3; QS Ath Thalaq 3, Q.S. Ar-Ra’d:11; QS. Al Ankabut: 60, dll banyak banget.

Jadi justru Anda setelah ikut PPA harusnya lebih maximal lagi ikhtiarnya dari sebelumnya namun yang membedakan alumni PPA dan belum adalah pemahaman dan peletakkan hatinya karena sudah mengerti materi Total Bergantung dimana ini adalah ruh inti dari Poin 2 PPA yaitu Ikhtiar Iman Maximal.

Nah disinilah letak kesalah pahaman yang kedua.. di materi Total Bergantung (kepleset pemahaman materi ikhtiar iman maximal saya jelasin aja di kelas oke..)

Total Bergantung itu adalah hati Anda bergantung Total hanya mengharapkan keridhoan/pertolongan dari Allah, namun bukan berarti tidak melakukan apapun! Sekali lagi.. Total Bergantung itu BUKAN berarti TIDAK MELAKUKAN APAPUN. Bukan artinya Anda ngarep pertolongan dari Allah terus diem-diem aja dirumah sambil mengharap miracle langsung turun BLEK!

Walaupun hal “BLEK-BLEK” itu sangat mungkin terjadi dan asli terjadi di buanyak alumni PPA.. (silahkan cek testimoni DISINI) namun bukan berarti kita nggak ngapa-ngapain masbro.. sekalipun batin bergerak kan bergerak juga.

Kalau total bergantung terus Anda ngga ngapa-ngapain itu bukan total bergantung, tapi hanya orang-orang yang bersembunyi dibalik KEMALASAN saja.

Jangan merasa menyelingkuhi dari total bergantung ke Allah dengan Anda berikhtiar bro.. dan merasa sudah tidak total bergantung. Justru disanalah prakteknya.. bisa ngga Anda merasakan posisi hati total bergantung ke Allah dengan tetap maximal di wasilah ikhtiar Anda. Begitu.. nah kalau sudah begini siap-siap dikejutkan dengan miracle dari Allah seperti janji-Nya.

“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majjah, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

Sebergantung totalnya nabi Musa, Allah masih nyuruh beliau untuk memukulkan tongkat lho.. padahal mudah bagi Allah langsung belah laut tanpa dipukulkan tongkat. Itu menandakan Allah mau mengajakarkan kita untuk maximal juga ikhtiarnya namun hati total bergantung ke Allah. Dan BAMM! Miracle Allah hadirkan..

Dan orang yang nyinyir mungkin akan berkata.. “Yaelah Mus..Mus.. kaya ngga percaya ke Allah. Pake mukul-mukulin tongkat segala. Tungguin aja..”

Umar bin Khattab ketika melihat orang doa ngga selesai-selesai minta rezeki di mesjid terus disuruh keluar untuk berdagang ke pasar. Kalau orang itu nyinyir mungkin akan bilang.. “Yaelah Mar.. Mar.. kaya ngga percaya aja ke Allah. Pake dagang segala.. nanti Allah juga kasih.”

Sama juga ketika Rasul menyuruh mengikatkan unta sahabatnya ketika hendak sholat. Kan orang itu tidak menjawab.. “Yampun Rasulullah.. saya percaya ke Allah kok. Nggak usah diikat lah.. nanti Allah jagain kok.”

GUBRAK!!

Jadi inget ada yang konsultasi kemarin..
“Mas kemarin saya buka usaha.. alhamdulillah langsung melesat. Terus masa ada alumni PPA lho mas yang bilang begini. “Yampun.. jadi ceritanya udah ngga total bergantung ke Allah lagi nih. Kaya ngga percaya ke Allah aja.. jadi bergerak ke bisnis.”
Ya inilah yang namanya merasa paham.. ^^.
Maka saran saya mengulang itu penting.. bukan mendengarkan materi yang sama tapi memenuhi perspektif yang masih belum kita mengerti agar bijak.. ngga gampang menuduh orang. Udah ngga JFOA lah, udah ngga bergantung lah, dsb.
“Parahnya mas.. dia itu bidang usahanya ya sama kaya yang saya jalankan sekarang.”

“Mba.. dari sikapnya yang demikian kayaknya dia deh yang ketakutan kekurangan rezeki. Kan harusnya ya bisa sinergi atau malah jadi alternative kan.. bukan malah dianggap saingan yang akan mengurangi omsetnya dengan adanya bisnis mba.. jadi takut target marketnya berkurang. ^^”

Jadi pertanyaan saya.. Ini sebenarnya siapa yang “KAYA NGGAK PERCAYA?”

Saudaraku.. mari sama-sama beristigfar.. kembali mengecek diri dan hati..
Apakah Allah masih menjadi tujuan kita?

Berhentilah sejenak.. buang semua ego.. cek diri..

Berikhtiarlah maximal dengan hati tetap bergantung ke Allah dalam mencari ridho-Nya bukan yang lain.. maka akan kau temukan kedamaian menuju cahaya hakiki bukan yang semu. Hidup ini singkat lakukanlah semaximalmu..

Jangan terlalu mencintai sesuatu kecuali Allah dan Rasulnya.. karena segala sesuatu yang terlalu kau cintai akan membelenggumu.. tak sadar nafsu tengah mengotori kembali hatimu..
Barakallah.. #MenemaniPerjalananCintaPadaNya

 

Sampah

Sampah

 

sampah

Assalamu’alaikum wr.wb

Subhanallah wabihamdihi 100x.

 

Maaf kelamaan yah baru nulis lagi =-d. Maklum sedang beres-beres soalnya banyak sampah di rumah.

 

Tiap hari kita numpuk sampah bertahun-tahun. Kadang kecil seringnya besar.. Jadi bau sampah dan banyak penyakit *sick*. Walaupun didepan rumah ditanamin bunga-bunga yang wangi juga tamu males masuk kan?

 

Stop buang sampah >=/.

Tapi bukan berarti dengan stop buang sampah baru terus didalem rumah jadi bersihkan?

 

Tetap harus dibersihin lah.. Jangan cuma ngucap “Sapu, sapu, .. Pel, ngepel.”

Mulut doank ngga sambil ngepel ya gimana ceritanya?! =))

 

Ada yang blg “Mas saya dah stop dosa-dosa saya.. stop riba bahkan wakafin diri. Kenapa sekarang jadi susah yah? ='(”

 

Cobalah muhasabah.. Sampahnya udah dibersihin belum? Atau baru stop buang sampah? Baguslah kalo makin disusahin artinya diberishin, nah klo mau cepet ya sambil bersih-bersih juga. 😉

 

Berhenti dari dosa itu bagus.. Tapi jika blum taubat (bener-bener minta ampun sama Allah) ya sampah lama blum bersih.

 

Gapapa sekarang lagi dibersihin.. Klo mau cepet bersih ya ikut bersih-bersih sendiri juga lah.

 

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani berkata : taubat itu adalah meninggalkan perbuatan dosa karena buruknya, menyesal atas keterlanjuran melakukan dan bertekad tidak akan mengulanginya, serta berusaha untuk memperbaiki amal perbuatannya.

 

PR, buka Nuh 10-12.

 

Selamat bersih-nersih guys ;-).. Taubat sampe nangis-nangis ke Allah kalo perlu.

 

Insyaallah.. Tamu2nya nanti dateng..

Buku PPA sisa beberapa pc lagi.. kalau kehabisan ya siap-siap nunggu 3 bulanan yah.

Order sekarang juga +62 812-1533-001

 

Tanah Haram

Tanah Haram

tanah haram1

Assalamu’alaikum wr.wb
Subhanallah wabihamdihi 100x.

“Mas saya setelah ikut PPA alhamdulillah diminta ngajar di Mekkah. Namun saya bisa masuk ke tanah suci sedangkan uang saya nggak masuk alias hilang. Padahal itu biaya hidup saya disana. Bahkan istri di Indonesia kehilangan dompet sama isi-isinya.”

Mungkin Anda setelah ikut PPA ngalamin hal serupa.. Malah hancur, kehilangan, rusak, dll..

Apa nggak berhasil?? memang tanda berhasilnya PPA dinilai dari dapet atau nggaknya??

Salah satu tanda berhasil alumni PPA a/ ketika bisa “melihat” Allah dalam segala kondisi.

Gini-gini..

Misal Anda mau nanem tanaman tapi tanahnya masih campur plastik, ban bekas, kaleng, botol-botol,dll.

Anda mau langsung tanem atau bersihin dulu?
Bersihin kan..

Ternyata Allah mau menanamkan kebaikan dan keberkahan ke beliau. Cuma karena “tanahnya” masih ada haramnya (bukan tanah haram ya hehe..).

“Iya mas kayaknya masih ada ribanya atau dapetinya dulu ada orang yang tersakiti. Bahkan dompet hilang itu isinya buanyak kartu kredit. Alhamdulillah sekarang Allah malah kasih kepercayaan, keberkahan, ledakan, perubahan besar dhidup saya. (0.0)”

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”
QS Al A’raf 73

Ketemu d kelas PPA terdekat oke 😉

Kalau memang susah ikut kelas silahkan baca saja buku PPA. Anda bisa menikmati materi PPA secara sistematis sambil selonjoran tanpa perlu keluar rumah.

Buku sisa sedikit.. nunggu cetakan baru kayaknya harus bersabar 2-3 bulan kedepan.

So, grab it fast now!

Call 0812-1533-001