Penyakit Penghapus Berkah Sindrom Abu Jahal

Penyakit Penghapus Berkah Sindrom Abu Jahal
By: Sonny Abi Kim

Penyakit ini bukan hanya bisa menghapus keberkahan, bahkan di level berikutnya penyakit ini bisa menutup pertolongan Allah dalam hidup. Apa jadinya hidup ini ketika Allah sudah tidak mau lagi menolong kita? Adakah selainNya?

‘Warisan Abu Jahal…’, begitu saya menyebut penyakit ini. Sindrom yang betul-betul harus disadari, untuk kemudian kita buang jauh-jauh.

Allah menyebutkan penyakit ini dalam QS. Al Anfal (8) ayat 47.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ ….

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya)….”

Ketika musyrikin Makkah bergerak ke lembah badr, dengan kekuatan 1.300 pasukan, persenjataan lengkap, dan persiapan sempurna. Berbicaralah Amr bin Hisyam alias Abu Jahal selaku komandan umum;

“Kita tidak akan pulang sebelum mengambil alih Badr, membinasakan Muhammad dan para sahabatnya, menetap disana selama tiga hari sambil menyembelih unta, makan-makan, minum khamr, dan menikmati nyanyian dari para biduan, hingga bangsa Arab mendengar keberadaan dan cerita tentang kita, setelah itu untuk selamanya bangsa Arab akan segan terhadap kita.”

Kita sudah tahu akhir cerita dari perang Badr, Abu Jahal terbunuh, pasukan musyrikin Makkah harus merasakan kekalahan telak, padahal dalam keadaan yang lebih siap, lebih banyak dan lebih kuat.

Yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah dua penyakit yang menjadi sumber kerugian dan kekalahan dalam hidup. Dan dua hal itu terbaca dengan jelas dalam pidato Abu Jahal diatas.

1. Arogansi / Kesombongan
Ini adalah satu hal pasti yang akan menghilangkan berkah dalam hidup, satu hal yang akan menutup pertolonganNya.

Sombong itu bukan tentang berpakaian bagus atau berkendaraan mahal, tapi kata Rasulullah ada 2 indikator yang menjadi paramater bahwa kita sedang terjangkiti penyakit ini; menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Gejala penyakit;
– merasa lebih dari yang lain
– memicingkan mata kepada orang lain
– merendahkan sesama

– berat menerima kritik
– ‘ tidak betah’ mendengarkan orang lain, lebih-lebih jika yang berbicara adalah orang levelnya lebih rendah dalam pandangan duniawi.

Dan turunan dari penyakit yang pertama ini adalah sindrom yang kedua;

2. Ingin dilihat orang lain
Niat yang sempit, melakukan sesuatu hanya untuk dinilai manusia.

Berjuang untuk bisa sukses dalam hidup, berkarya, berupaya untuk bisa meraih pencapaian-pencapaian hebat dalam karir atau usaha, hanya untuk membuat orang lain kagum.

Jika sudah begitu, tak peduli sehebat apapun; nol besar nilainya disisi Allah.

Gejala pertama;
Ketika yang kita betul2 pedulikan adalah “Apa kata orang?”

Khawatir sekali dengan “apa kata orang”.

Memutuskan sesuatu dengan pertimbangan “apa kata orang”.

Rela bayar cicilan seumur hidup, demi “apa kata orang”.

Kita letakkan kebahagiaan di mulut orang lain.

Mati2an melakukan apapun demi mengesankan orang lain.

Ada rasa puas yang luar biasa ketika berhasil membuat orang lain terkesan.

Seakan sudah tidak terlalu dihiraukan bagaimana Allah melihat, yg penting bagaimana orang lain melihat.

Gejala kedua;
Mudah tersinggung, mudah sakit hati,
mudah sekali merasa diremehkan.

Betapa haus sekali akan penghargaan & pengakuan dari orang lain.

Ingin selalu terlihat,
ingin selalu tampil,
ingin selalu dikenal,
ingin selalu disebut,
ingin selalu diketahui,
Ingin selalu dihargai.

Ini saya, ini saya…

Mudah kecewa,
mudah marah,

Memang selalu begitulah akhir ceritanya bagi siapa saja yang menaruh harapan pada selain Allah.

Gejala ketiga;
Biasanya diikuti juga dengan gejala tambahan, yaitu kondisi perasaan yang amat bergemuruh untuk bersaing dengan orang lain dalam urusan dunia.

Seolah-olah hidup hanya tentang persaingan, untuk saling mengalahkan satu sm lain.

Hidup yg dipenuhi dengan ambisi2 sempit.

Yang menjadi hobinya adalah membandingkan-bandingkan.

Jika tidak segera disadari, yang paling bahaya dari itu semua adalah puncak penyakit berupa hati yang penuh dg kedengkian.

Susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah.

Tidak lelah kah hidup seperti ini?

———————–

Semoga menjadi bahan renungan kita bersama, khususnya terutama untuk yg menulis tulisan ini, semoga menjadi cermim.

بارك الله فيكم..
Sonny Abi Kim,
#WasiatKebekahan
#GenerasiBerkah

Ebook Hafalan Shalat Delisa

Ebook Hafalan Shalat Delisa

HSD
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tahun Pertama Terbit: 2007
Jumlah Halaman:  248

Novel manis yang satu ini mengangkat kisah seorang bocah perempuan bermata hijau telaga yang baru berusia 6 tahun. Gadis cilik tersebut bernama Delisa. Ia merupakan anak bungsu di dalam keluarganya. Adapun kakak-kakan Delisa adalah Cut Fatimah, Cut Zahra dan juga Cut Aisyah. Keluarga Delisa berdomisili di Lhok Nga. Delisa dan saudara-saudaranya hanya tinggal bersama Ummi, sebab sang Abi bekerja sebagai mekanik kapal yang berbulan-bulan ikut di kapal yang berlayar.

Meski merindu, tetapi Delisa tetap menjalani hari-hari mereka tanpa sang Abi. Suatu hari Delisa mendapat tugas dari sekolahnya. Tugas tersebut adalah menghafal bacaan salat. Delisa giat sekali menghapas bacaan-bacaan tersebut. Terlebih ummi menjanjikan ia hadiah jika Delisa berhasil menghafal baccan tersebut. Hadiah yang membuat Delisa semangat adalah kalung emas yang dijual di toko Ko Acan. Ko Acan sendiri merupakan sahabat Abi Delisa.

Tanggal 26 Desember tahun 2004, Delisa dan semua teman seisi kelasnya dijadwalkan mempraktekkan hafalan solat yang telah mereka hapalkan beberapa waktu. Saat tiba giliran Delisa, sembari mengucapkan bacaan solat, tiba-tiba bumi bergetar hebat. Semua tampak gonjang ganjing. Dan seketika, air laut mulai naik ke daratan dengan ganasnya. Ia bagai tangan raksasa yang merengkuh segala yang ia jumpai. Bencana tersebut adalah gempa hebat yang disusul tsunami. Kurang lebih 15.000 orang yang meninggal akibat bencana ini. Termasuk di dalamnya Ummi dan kakak-kakan Delisa.

Delisa sendiri selamat. Ia tersangkut di semak belukar. Siku kanan bocah tersebut patah dan kakinya bagian kanannya terjepit di bebatuan. Setelah 6 hari terjebak di tempat terebur, Delisa kemudian ditemukan oleh seorang prajurit relawan bernama Smith. Delisa yang dilihatnya sangat bercahaya kemudian membawa prajurit tersebut untuk masuk Islam.

Karena suasana yang kacau balau, Abi yang telah mengetahui bencana tersebut tak bisa menemukan Delisa. Ia menghabiskan beberapa waktu sebelum akhirnya bertemu gadis mungilnya. Saat bertemu Abinya, Delisa bercerita layaknya anak-anak yang tak mengerti apa-apa. Bencana tak menghapus keceriannya. Termasuk saat kaki kanan Delisa harus diamputasi, semuanya tak berhasil membuat ia murung. Ia bersama Abi menjalani hidupnya. menata dari awal. Meski jasad Ummi dan ketiga kakaknya belum ditemukan, tapi Delisa dan Abi harus hidup normal, begitu pikirnya.

Suatu waktu Delisa melihat ada sebuah pantulan cahaya yang mengganggu penglihatannya. Karena penasaran, Delisa pun mendekat. Dan tak disangka, cahaya tersebut merupakan pantulan kalung dengan huruf D. Dan kalung tersebut berada dalam pegangan seseorang. Ummi Delisa sendiri.

Kisah novel ini sangat menyentuh. Layak untuk Anda hadiahkan bagi keluarga terdekat utamanya anal-anak yang sedang menghafalkan bacaan solatnya. Buku ini bisa menjadi motivasi bagi mereka.

Selamat menikmati novel Hafalan Salat Delisa ya!

Koment and Share artikel ini ya kawan… mudah-mudahan jadi amal jariah Anda.

Segera deh cek jadwal terdekat kelas PPA.. Allah punya something for you guys ^^. Cek aja testimoni yang saya upload disini.. siapa tau sama hehehe…

Stay tune on this web ;).

Kita diskusinya di grup FB Pola Pertolongan Allah..

Ebook Ayat-Ayat Cinta

Ebook Ayat-Ayat Cinta

cover-ayat-ayat-cinta
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika-Basmala
Tahun Pertama terbit: 2004
Jumlah Halaman: 418
Banyak yang merekomendasikan novel ini untuk dibaca, sebab sarat akan nilai-nilai keislaman. Tapi, tak ingin menjadi naïf, bukankah ada banyak novel di luar sana yang juga dijejali dengan nilai-nilai agama? Lantas mengapa novel karya Habiburrahman El Shirazy ini dibaca jutaan orang? Pasti ada yang “lebih daripada pesan moral”. Mungkin begitu segelintiran pertanyaan yang bergelayut di kepala Anda sebelum membaca novel Ayat-ayat cinta ini. Secara umum novel ini menarik. Menyajikan kisah cinta yang matang dengan latar negeri para nabi, Mesir.Kisahnya dibuka dengan keseharian seorang pemuda dariIndonesia bernama Fahri. Ia seorang mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di salah satu universitas bergengsi di Cairo, Mesir. Ia digambarkan sebagai tokoh yang saleh, pintar, santun, baik, dan sederet label sempurna lainnya. Agaknya sang penulis gagal bercerita pada bagian penokohan si Fahri ini. Banyak yang yang mencemooh karakternya yang bak nabi, tanpa cacat. Cercaan itu dilengkapi dengan anugerah fisik sempurna yang dilekatkan sang penulis padanya. Walhasil, sekurang-kurangnya ada 4 wanita cantik yang menginginkan Fahri menjadi pendamping. Wanita tersebut adalah Nurul, Noura, Maria dan Aisha. Keempat wanita tersebut jatuh hati pada “kesempurnaan” tokoh Fahri, hal ini bagi sebagian orang terlalu utopis. Meski demikian, dalam ranah fiksi, penulis adalah “tuhan”.
Fokus utama cerita ini sebenarnya adalah cinta. Tapi penulis membungkusnya dengan koridor islami. Klimaks konflik dimulai saat Fahri menikahi seorang wanita bernama Aisha, yang merupakan keturunan beberapa Negara yakni Palestina, Turki dan Jerman. Ia digambarkan sebagai wanita dengan mata yang menawan. Ia menggunakan cadar, cerdas, kaya, cantik dan semua sifat sempurna lainnya. Fahri yang anak seorang pedangang tape ketan cukup mendapatkan berkah luar biasa dengan menikahi seorang putri milyarder, si Aisha ini. Kisah kemudian bergulir pada sosok Maria, gadis cantik penganut Kristen Koptik yang merupakan tetangga Fahri. Dan, entah beruntung atau memang takdir penulis, ia membuat Maria jatuh hati pada Fahri. Perasaannya bahkan tak hilang sekalipun Fahri telah menikah. Selain Maria, ada pula Noura yang pada akhirnya menuduh Fahri hendak memperkosanya karena ia menolak cinta Noura. Klise memang, tapi toh cerita ini sanggup membuat banyak orang membeli buku ini.

Lantas apa yang menarik selain kisah-kisah tokoh yang semua nyaris sempurna itu? Mungkin setting.Penulis novel ini agaknya memahami betul lekuk cantik Mesir utamanya Cairo. Bagi pembaca, hal ini tentu semacam kunjungan lewat kata. Menyenangkan! Selain setting, keunggulan buku ini mungkin dari fragmen adegan yang memukau, sedikit berlebihan, tapi tetap membuat silau. Misalnya saat Maria sekarat, ia bermimpi bertemu Maryam ibunda Nabi Isa. Ia tidak diijinkan memasuki pintu Syurga sebelum ber-islam. Kemudian Maria sadar dan mengucapkan kalimat syahadat kemudian meninggal dalam keadaan ber-islam. Menyentuh meski sedikit berlebihan.

Dari segi bahasa, penulis bermain aman. Buku ini tidak memiliki cita rasa sastra yang berani bermain kata. Bahasanya sederhana, runut dan mudah dimengerti. Hal ini mungkin yang menmbuat semua kalangan membacanya. Sederhana meski kisahnya terlampau sempurna. Tapi, persoalan selera tak mutlak sama bukan? Bisa saja Anda membacanya dengan sensasi berbeda. Sinopsis novel Ayat-ayat Cinta ini tidak bermaksud untuk mengintervensi pendapat Anda. Hanya mengantarkan Anda pada potongan cerita di novel ini. Sisanya, silahkan Anda membacanya sendiri. Novel ini layak untuk dibaca. Selamat berburu novel ya!

 

Silahkan Download ebooknya DISINI

 

Koment and Share ya kawan… mudah-mudahan jadi amal jariah Anda.

Segera deh cek jadwal terdekat kelas PPA.. Allah punya something for you guys ^^. Cek aja testimoni yang saya upload disini.. siapa tau sama hehehe…
Stay tune on this web ;).

Kita diskusinya di grup FB Pola Pertolongan Allah..