DREAMBOOK

DREAMBOOK

 

DREAMBOOK?
#JFoA

By : Sonny Abi Kim

Mimpi? Ambisi?
Ah, rasanya dua kata diatas sudah lama sekali berubah maknanya bagi diri saya.

Mimpi/ambisi yang saya pahami 3-4 tahun ke belakang sangat berbeda sekali dengan apa yang saya maknai beberapa waktu kemudian.

Seberapapun ‘terlihat’ mulianya mimpi/ambisi saya ketika itu dulu, namun (diakui atau tidak) spirit dari mimpi dan ambisi itu adalah Tuhan-Tuhan lain selain diriNya.

Meskipun di mulut namaNya lah yang disebut, bahkan namaNya pula yang tercantum dalam dreambook itu, namun hati ini menghadap kepada selainNya.

Ya, Tuhan-Tuhan lain itu diantaranya adalah pengakuan, penghargaan, penilaian, kekaguman, cinta, dan pujian manusia.

Setiap apapun yang dilakukan ketika itu, mulai dari berbicara, bersikap, update status medsos, pasang foto, presentasi, tampil di panggung, berdagang, menulis buku, mengambil keputusan untuk membeli sesuatu, dan lain sebagainya, semuanya dipersembahkan demi Tuhan-Tuhan lain itu.

Jauh rasanya hati ini dari berpuas diri dengan penilaian dariNya.

Apa indikasinya? Mudah saja, ketika masih ada rasa harap pada Tuhan-Tuhan lain itu (pengakuan dan penilaian manusia), maka kita akan menjadi orang yang;
-mudah tersinggung
-banyak kecewa
-selalu ingin diketahui org lain
-sering sakit hati
-sering mendengki
-sulit merendahkan hati
-berkobar semangat bersaing dalam urusan dunia
-resah gelisah
-lelah
-dan lain sejenisnya.

Bahkan disaat itu pula seolah mimpi/ambisi akan terasa semakin menjauh untuk diwujudkan. Jikalau pun sampai terwujud, betapa lelah proses utk menggapainya, tak ada kenikmatan, tak ada keberkahan.

Sampai akhirnya kesadaran itu hadir, dan seringkali memang dihadirkan oleh pengalaman hidup dalam bentuk kepahitan, kesakitan, kesusahan, kesempitan, atau bentuk lainnya yang rasanya tidak enak.

Seperti yang dikatakan Imam Syafii;
“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan atasmu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”

Ada 1 ambisi yang akan membuat hidup ini ringan, bahagia, indah, berkah, dan ternikmati. Ambisi yang akan membingkai semua keinginan dan harapan.

Ambisi itu adalah keridhoanNya, ambisi untuk menjadi hamba yang diridhoiNya. Titik.

Jika sudah seperti itu, sudah tidak ada lagi urusan untuk mengalahkan orang lain atau menjadi yang terbaik dibandingkan yang lain dalam urusan dunia, melainkan hanya ingin bersinergi dan berkontribusi, memberi manfaat sebesar-besarnya kepada siapapun.

Jika sudah seperti itu, hilang sudah perasaan selalu merasa kurang, melainkan hadir hati yang selalu merasa cukup, jiwa yang penuh dengan cinta dan kedamaian.

Jika sudah seperti itu, hilang sudah perasaan ingin selalu tampil & menonjolkan diri, melainkan hadir kesadaran untuk berbagi peran untuk pencapaian sebuah misi.

Jika sudah seperti itu, hilang sudah ego dan pemaksaan kehendak diri, melainkan yang hadir adalah ikhtiar-ikhtiar yang menentramkan dalam bingkai kepasrahan, ikhtiar yang berbalut ketenangan, ketenangan yang berasal dari keyakinan akan jaminanNya.

Karena mimpi/ambisi layaknya sebuah doa, meminta dan mengusahakannya adalah sebuah kebaikan, namun perkara dikabulkan atau tidak – terwujud atau tidak – Dialah yang Maha Tahu mana yang terbaik bagi hambaNya.

Memurnikan niatnya, menyempurnakan langkahnya, lalu memasrahkan hasilnya.

Jika yang diinginkan adalah ridhoNya, maka akan mudah pula kita memiliki hati yang selalu ridho terhadap apapun kejadian, takdir, dan semua yang menjadi ketetapanNya.

Namun anehnya, ketika mimpi/ambisi selain keridhoanNya sudah tak ada lagi di hati, satu demi satu dari mimpi-mimpi itu seperti terus mendekat dalam genggaman. Ya, cukup dalam genggaman.

Tanpa sengaja saya membuka dreambook tahun 2008, hampir semua yang tertulis disana sudah terwujud, sedangkan sebagian lainnya semakin mendekat.

Ya, justru itu terjadi disaat kita sudah tidak berharap apapun, kecuali keridhoan dan ampunanNya.

Teringat salah satu sabda Rasul;
“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai b

eraikan urusannya, lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkan saja. Sedangkan, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta”.
(HR Al Baihaqi dan Ibnu Hibban)
#MenemaniPerjalananCintaPadaNya

Sonny Abi Kim

Selepas Shubuh
3 Muharram 1438 H
4 Oktober 2016 M

#PPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *