UBI PELANGI

UBI PELANGI

UBI PELANGI

By: Rezha Rendy

 

Ada kejadian yang buat saya senyum-senyum sendiri hehehe..

Gimana nggak coba?

Semenjak ngisi PPA yang sekarang alhamdulillah sudah menjelang 500 angkatan dan ribuan kasus yang diajukan di papan tulis, baru kali ini ada peserta bapak-bapak yang mengangkat tangannya dan mengajukan keinginan..

“Mas tolong ditulis saya mau nikah lagi.”

WHAT?!
Sontak saya yang sudah siap nulis harapan peserta langsung berhenti nulis dan senyum-senyum sendiri pasalnya satu kelas yang dihadiri 30an peserta semua tertawa bahkan bapak itu pun tertawa juga.

Tidak ada yang salah sih dengan keinginannya cuma ya kok berani-beranian ngomong didepan banyak orang.

“Ini beneran pak?” Tanya saya sambil senyum.
“Iya mas beneran.” Jawabnya.
“Kalau boleh tau kenapa gitu pak pengen nikah lagi?”

Dan jawabannya membuat saya kaget.

“Mau ngetest Allah aja mas.”

WHAT?! Hhhh… saya menghela nafas mencoba langsung menasihati saat itu namun saya urungkan. Nanti sajalah.. karena kalau diingatkan saat itu terkesan menghakimi. Biarlah Allah yang jelasin sendiri saya mah siapin diri aja untuk digerakan ngomong.

Hingga tibalah materi yang membahas tentang JEBAKAN ILUSI KEINGINAN.

“Kawan-kawan, hati-hati terjebak dengan keinginan kita sendiri yang memenjarakan kebahagiaan hidup kita. Jangan dipikir kalau Anda dapat yang sedang Anda kejar itu Anda akan senang selamanya. Tidak! Itu ilusi saja.. Bahagia itu bukan karena sesuatu tapi karena bisa menikmati apa yang ada. Kalau memusingi apa yang belum ada maka ngga akan pernah bahagia.”

Saya jadi teringat kisah Abu Nawas yang memiliki istri sangat cantik di kampungnya. Setiap istrinya melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul pasti semua mata menatap kepadanya. Mending tatapannya biasa aja.. tapi ini gimanaaa gitu.. dan digodain pula lagi.

“Beruntung banget ya Abu Nawas istrinya cantik. Ngga bosenin kali ya tiap hari kalau lihat dirumah..”

Tuh lihat.. pada ngayal aja kerjaannya.. padahal istri dirumah mereka ya ngga kalah cantiknya. Namun itulah manusia.. yanggg,,,, ah sudahlah hehe.. Nafsu terus yang dikedepankan.

Istri Abu Nawas akhirnya pulang dengan sedikit belari ke rumah dan nangis didepan Abu Nawas. Kemudian menceritakan apa yang dialaminya tadi di jalan.

Apa yang dilakukan Abu Nawas??

Dia malah beli ubi di pasar dan memotong-motong ubi tersebut kemudian dimasak dengan diberi warna yang berbeda-beda. Setelah masakan jadi dia memanggil orang-orang yang menggoda istrinya tadi untuk diajak makan bareng. Kalau kita mungkin sekalian dicampur sianida kali yah hehehe… ^^.

“Ayo silahkan dimakan jangan malu-malu..” Abu Nawas mempersilahkan tamunya untuk makan.

Masing-masing mendapatkan warna yang berbeda.. ada yang dapat warna kuning, merah, hijau dan ungu.

Nih perhatikan..
Lucunya adalah ketika yang mendapat warna kuning sedang makan dia melihat orang yang makan warna merah trus dia jadi mau tapi ngga berani.
Yang makan warna merah melihat temannya makan warna hijau jadi mau juga..
Yang makan warna hijau melihat temannya makan warna ungu jadi mau juga..
Yang ungu pun demikian, lihat warna merah jadi mau juga.

“Kenapa? Kalian ingin mencicipi menu yang lain? Silahkan saja.. saling mencicipi.” Abu Nawas mempersilahkan.

Setelah mereka saling mencicipi wajah mereka keheranan dan mikir-mikir hehe.. kemudian mereka memberanikan diri bertanya kepada Abu Nawas.

“Maaf.. ini ko rasanya sama yah? Apa lidah saya yang salah?”

Abu Nawas yang mendengar pertanyaan itu tersenyum kecil merasa menang dan berkata.

“Ya memang rasanya sama.. semua hanyalah ubi namun saya kasih warnanya saja yang berbeda.

Ketahuilah kalian bahwa rasa istriku dan rasa istrimu dirumah itu SAMA SAJA yang beda hanya casingnya saja!”

Hahahaha…. ^^.
Selamat Anda tertipu ilusi Anda sendiri kawan hehehe..

Sontak semua peserta yang ada di kelas tertawa terbahak-bahak. Bahkan di kelas saat itu ada kawan saya yang istrinya memang 2 dan ketawa paling keras. Dia bilang…

“Hahahaha… iya mas bener rasanya sama aja. Malah nambah pusing! Hahahaha.”

Dan tahukah Anda apa yang terjadi dengan si bapak tadi? 😀

Dia ngga jadi nulis permintaan nikah lagi tadi di proposal cintanya, dia bilang..

“Kalau rasanya sama aja ya ngapain mas hehehe…”

Itulah sepenggal kisah saya saat mengisi private class PPA.

Kawan..
Jangan tertipu ilusi-ilusi Anda sendiri yah. Jangan berpikir kalau Anda dapat sesuatu seneng selamanya. Nggak! Itu sementara trus hilang lagi dan muncul keinginan lainnya lagi yang menyita kebahagiaan Anda.

Saya mah nggak mempermasalahkan nikahnya lho ya hehehe.. Namun pesan saya jika memang siap untuk adil maka monggo saja. Adil dalam pandangan Allah bukan menurut nafsu Anda pribadi lho. Kasihan lah nasib orang lain kalau hanya jadi korban “UBI PELANGI” (nafsu/ilusi keinginan Anda saja). Efeknya bukan cuma Anda namun orang-orang yang Anda sayangi juga kena.

Kasus ini banyak banget soalnya yang datang ke saya. Bukan cuma untuk bapak-bapak. Mba-mba pun gitu… Maaf, punteeenn…. kalau sudah dateline kebanyakan prinsipnya “yang penting ada”. hehehe..

Akhirnya siapapun yang datang mah hayuk aja.. sekalipun sudah punya keluarga. Nah kan, klop!

Yang laki-laki bawa “UBI PELANGI”nya sendiri yang perempuan juga bawa “UBI PELANGINYA” sendiri. Hehehe.. nanti deh saya bahas di materi “BUNGKUS dan ISI”.

Oke.. diluar konteks nikah ^^.

Intinya adalah hidup Anda jangan dihabiskan dengan melihat rumput tetangga terus yang sepertinya lebih hijau. Tau kenapa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri?

Karena mereka banyak syukurin kebunnya dengan disibukkan menyiram dan menanam. Sementara kita sibuk ngeliatin aja.. hehehe..

Setuju?
Share yang setuju yah biar ngga makin banyak orang yang mabok “UBI PELANGI”.. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *